NEWS


nblindonesia.com - 25/11/2012
Hebat saat Jadi Pemain, Duet Romy-Budi Berlanjut ke Asisten Pelatih
''Pippen'' Belum Punya Target Head Coach, "Jordan" Lima Tahun Lagi

Saking hebatnya, Romy Chandra dan Ali Budimansyah dijuluki Scottie Pippen dan Michael Jordan pada medio 1990-an. Kini keduanya bahu-membahu membantu Nathaniel Canson mengantarkan Pelita Jaya (PJ) Esia Jakarta untuk memburu gelar juara NBL.

RAGIL UGENG, Bandung

---

TIDAK ada yang meragukan kehebatan duet Romy Chandra dan Ali Budimansyah ketika keduanya masih aktif sebagai pemain. Saking hebatnya, publik basket Indonesia menjuluki mereka Scottie Pippen dan Michael Jordan dari Indonesia ketika membela Indonesia Muda (IM) pada pertengahan 1990-an. Julukan itu mengacu pada kehebatan duet Pippen dan Jordan saat membela Chicago Bulls.

Duet Romy dan Budi -sapaan Ali Budimansyah- juga menjadi bagian dari kehebatan Aspac saat melakukan three peat juara kasta tertinggi basket nasional pada 2000-2003. Hebatnya, ketika itu Aspac berstatus unbeatable alias tak terkalahkan.

Namun, perjalanan karir keduanya di dalam lapangan tidak selalu beriringan. Budi yang terus berkutat dengan cedera pinggang memutuskan pensiun pada 2008. Gepeng -sapaan karib Romy- baru pensiun musim lalu. Kini keduanya membantu PJ sebagai asisten pelatih.

"Kami terbantu dengan chemistry yang sudah sangat kuat. Ibaratnya, saya tahu luar dalamnya Budi. Begitu juga sebaliknya. Ini sangat membantu ketika kami bekerja sama. Baik ketika saya masih bermain maupun saat kami sama-sama sebagai asisten pelatih sekarang," ucap Gepeng.

Gepeng menambahkan, perlakuan Budi kepada dia tak ubahnya seperti saudara. Ketika masih bermain, Budi tak sungkan memberikan masukan jika penampilan Gepeng melenceng dari game plan. Bagi Gepeng, masukan tersebut diterimanya dengan legawa meski dirinya lebih tua daripada Budi.

"Saya selalu berusaha belajar kepada siapa pun. Tak peduli siapa pun yang memberi masukan. Itu berarti masih ada yang peduli kepada saya. Termasuk, cara melatih pun masih terus saya pelajari," tegas Gepeng.

Salah satu cara belajar itu adalah mencatat. Gepeng menyatakan, sejak masih aktif bermain, dirinya selalu mencatat berbagai strategi dari sang pelatih. Ketika berada di rumah atau mes, dia mempelajari strategi itu untuk mengembangkan permainannya. Begitu juga halnya musim ini ketika dia sudah berstatus asisten pelatih.

"Saya belum tahu kapan mau jadi head coach. Namun, kalau jadi head coach, saya ingin memegang tim junior. Bahkan, saya punya mimpi untuk membentuk sebuah klub basket. Saya ingin mengajarkan fundamental yang benar," tutur Gepeng.

Nah, kalau Gepeng belum punya target, Budi malah sudah memiliki visi ke depan. Lima tahun lagi, dia menargetkan bisa menjadi head coach. Saat ini dia masih mempelajari banyak ilmu dari para head coach.

"Semakin banyak ilmu, semakin bagus. Saya tak ingin cepat naik jadi head coach. Ilmu saya masih sedikit. Lagi pula, lima tahun lagi kan mungkin gilirannya pelatih muda jadi head coach karena yang senior bisa jadi sudah pensiun," terang Budi.

Bagi ayah Balin Wistara Budimansyah tersebut, menjadi head coach tidak mudah. Selain menyusun strategi di dalam lapangan, head coach mesti bisa membentuk karakter di luar lapangan. Karakter itulah yang memegang peran penting bagi kesuksesan sebuah tim.

Selamat berjuang deh Jordan. Eh, Budi! (c8/ang)

Story Provided by Jawa Pos

Share this:
DBL Indonesia Jawa Pos Group li-ning Safe Care Sony Mainbasket Bandung Ekspres 99ners AGDC Mitra Net Indomaret Perbasi Speedy Honda Prospect Motor Tolak Angin Sido Muncul RadioB Ardan
 

National Basketball League Indonesia | Contact Us
Copyright 2010 PT DBL Indonesia, All rights reserved.
Any commercial use or distribution without the express written consent of DBL Indonesia is strictly prohibited.